Jumat, 09 September 2011

Tragis! Peraih Emas Balap Sepeda Ini Jadi Penarik Becak

penjasorkes.com — Dipuja ketika masih berjaya, ditelantarkan saat sudah tidak berdaya. Barangkali itulah gambaran nasib sebagian mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara saat ini.

Cerita sedih dan memilukan itu juga menimpa salah satu atlet balap sepeda nasional asal Surabaya, Jawa Timur, bernama Suharto. Dia kini berprofesi sebagai penarik (tukang) becak.

Siapa sangka, mantan pebalap yang kini berusia 59 tahun itu pernah merebut medali emas pada SEA Games 1979 di Malaysia untuk nomor "Team Time Trial" jarak 100 kilometer. Bersama tiga rekannya saat itu, yakni Sutiono, Munawar Saleh, dan Dasrizal, tim balap sepeda Indonesia mampu mempecundangi pesaingnya dari Malaysia dan Thailand untuk merebut medali emas.

Dua tahun sebelumnya, di SEA Games 1977 yang berlangsung di Thailand, Suharto menyumbangkan dua medali perak untuk kontingen "Merah Putih" dari nomor jalan raya beregu dan perorangan.

"Saat itu, tim balap sepeda Indonesia tampil cukup solid sehingga bisa merebut medali emas," kata Suharto saat ditemui Antara di tempat kosnya di Jalan Kebon Dalem VII, Surabaya, Selasa (30/8/11).

Ia menceritakan bahwa kekuatan balap sepeda Indonesia pada era 1970-1980-an cukup disegani di kawasan Asia Tenggara.

Kenangan menjadi juara SEA Games tidak pernah dilupakan Suharto. Di kamar kos yang hanya berukuran 2 x 3 meter, Suharto menyimpan rapi seluruh medali dan piagam penghargaan yang pernah diperoleh dari berbagai ajang balapan nasional dan internasional.

Bapak tiga orang anak itu juga mengumpulkan kliping berita dari berbagai media cetak yang memuat keberhasilan tim balap Indonesia, termasuk juga foto bersama Presiden RI Soeharto.

"Semuanya masih saya simpan dan sekali waktu kalau kangen, saya buka lagi kliping-kliping itu," ujar pria kelahiran Surabaya pada 18 Februari 1952 itu.

Suharto menuturkan, ketika berhasil merebut medali di ajang SEA Games, dia dan teman-temannya tidak pernah memperoleh bonus uang dari pemerintah, seperti yang diterima atlet-atlet nasional saat ini.

"Kami hanya mendapatkan semacam piagam penghargaan yang diserahkan Gubernur Jatim di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Waktu itu cuma diajak makan-makan, tidak diberi uang saku," tambahnya.

Perkenalan pada cabang olahraga balap sepeda memang tidak disengaja. Saat itu di awal tahun 1970-an, Suharto memulai latihan dengan menggunakan sepeda "pancal" milik ayahnya yang dimodifikasi menjadi sepeda balap.

Kendati tidak mendapatkan izin dari ayahnya, Suharto nekat mengikuti lomba balap sepeda tingkat lokal Piala Wali Kota Surabaya dan tampil sebagai juara. Setelah itu, Suharto yang seangkatan dengan mantan pebalap nasional Sutarwi dan Sapari (keduanya dari Jatim) itu, bergabung dengan klub balap sepeda Porseni Korpri Surabaya dan mengikuti beberapa balapan level nasional.

"Saya dipanggil bergabung di tim nasional setelah mengalahkan pebalap nasional pada kejuaraan di Jawa Barat sekitar tahun 1975. Kemudian saya masuk tim SEA Games 1977," tuturnya.

Bersama sejumlah pebalap nasional, Suharto mendapatkan kesempatan dari Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) mengikuti pemusatan latihan di Swiss selama beberapa bulan. Setelah hanya merebut medali perak pada 1977, dua tahun berselang, Suharto akhirnya mampu mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

"Saya memutuskan berhenti dari balapan pada tahun 1981, karena tuntutan ekonomi. Apalagi, saat itu juga tidak ada janji apa-apa dari pemerintah untuk diberikan pekerjaan," katanya.

Kerja serabutan

Setelah memutuskan gantung sepeda, nasib Suharto menjadi tidak menentu. Untuk menyambung hidup, ia terpaksa bekerja serabutan. Menjadi kernet angkutan kota, membantu tetangganya berjualan ayam kampung atau berjualan alat pendingin ruangan (AC) bekas, pernah dia jalani sebelum akhirnya menjadi tukang becak hingga sekarang.

Bersama istrinya, ia hidup sangat sederhana dan berpindah-pindah tempat kos. Sebelum menyewa kamar kos di kawasan Kebon Dalem VII yang sudah ditempati lebih dari 15 tahun, Suharto pernah kos di kawasan Sukodono, Surabaya.

Sehari-hari dia kini menjadi penarik becak di sekitar kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

"Uang dari hasil menarik becak hanya cukup untuk makan keluarga. Kalau ada sisanya kami tabung untuk bayar sewa kamar kos," ujarnya.

Namun, hampir tiga bulan terakhir dia harus istirahat dari rutinitas menarik becak, karena penyakit hernia yang dideritanya sejak dua tahun lalu. Karena merasa tidak tahan dengan sakit yang terus menderanya, Suharto memberanikan diri datang ke kantor KONI Jatim pada sekitar Mei 2011 untuk meminta bantuan.

Ketua Harian KONI Jatim, Dhimam Abror Djuraid, sangat terkejut dan trenyuh mengetahui kondisi mantan atlet balap sepeda nasional itu. Apalagi, saat datang ke kantor KONI Jatim, bagian perut Suharto diikat dengan bekas ban dalam sepeda sebagai penahan rasa nyeri akibat penyakit hernianya.

"Saya dibantu Pak Abror untuk menjalani operasi pengangkatan hernia. Sekarang kadang-kadang masih terasa sakit dan belum boleh bekerja berat dulu," kata Suharto.

Abror mengatakan, pihaknya akan berupaya membantu Suharto untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah, karena pernah memiliki prestasi internasional.

"Pak Harto ini layak mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Dia pernah menjadi juara SEA Games, tapi sekarang hidupnya memprihatinkan," ujarnya.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memiliki program pemberian hadiah rumah kepada mantan-mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas internasional.

"Saya tidak pernah baca koran, jadi tidak tahu kalau ada program rumah gratis bagi mantan atlet nasional dari pemerintah," tambah Suharto.

Kendati sudah 30 tahun pensiun dari balap sepeda, Suharto masih memiliki niatan untuk kembali menekuni olahraga yang pernah membesarkan namanya itu.

"Kalau ada kesempatan dan modal, saya pingin menjadi pelatih. Jelek-jelek begini, saya pernah mengikuti pelatihan di luar negeri loh," kata Suharto menutup pembicaraan. Sumber Kompas

Terkejut, Pemain Timnas Temui Riedl

penjasorkes.com. Polemik seputar pemain timnas semakin memanas. Setelah kasus pemain yang sakit hati karena merasa "dilecehkan" oleh komentar pelatih Wim Rijsbergen, kini giliran PSSI yang kebakaran jenggot setelah mengetahui ada beberapa pemain yang Rabu lalu (7/9) bertemu dengan mantan pelatih timnas Alfred Riedl di salah satu mall di Jakarta. Kabarnya ada tujuh pemain "bersilaturrahim" dengan pelatih asal Austria tersebut.

Penanggungjawab Timnas yang juga Ketua Komdis PSSI, Benhard Limbong mengaku terkejut dengan kabar itu. Limbong pun menyatakan akan memanggil pemain-pemain yang dikabarkan bertemu Riedl untuk dimintai keterangan.

"Apa maksudnya dia (Riedl) memanggil para pemain. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di sana. Tapi saya ingin Riedl segera meninggalkan Indonesia dan tidak lagi mencampuri urusan timnas," cetus Limbong kepada wartawan di kantor PSSI, Jumat (9/9).

Sejak beberapa hari lalu Riedl memang berada di Jakarta. Ini terkait dengan tuntutannya kepada PSSI yang belum juga dikabulkan. Yaitu kompensasi senilai sekitar Rp 1,7 miliar karena dia diberhentikan di tengah jalan tanpa alasan jelas pertengahan Juli lalu.

"Alfred Riedl ke FIFA saja. Itu urusan dia dengan FIFA. Dia tidak usah ganggu PSSI. Kenapa Riedl mesti datang lagi ke Indonesia jika masalahnya sudah diserahkan ke FIFA," sambung Limbong.

Jenderal bintang satu ini juga menyalahkan pemain yang menurutnya terkesan cengeng. "Saya juga heran kenapa pemain ngotot ingin pelath diganti. Kalah dalam pertandingan itu wajar. Tidak perlu mencari kambing hitam. Kita evaluasi bersama. Tidak bisa pemain menentukan pelatihnya sendiri," bebernya.

Pertemuan beberapa pemain dengan Riedl itu dibenarkan oleh mantan asisten timnas Wolfgang Pikal. Menurut Wolfgang itu hanyalah silaturrahim biasa. Tidak ada egenda khusus yang dibicarakan. "Hanya pertemuan antar teman untuk melepas kangen. Saya kira itu wajar saja," kata Wolfgang.

Ketika didesak membocorkan siapa saja yang datang dalam pertemuan tersebut Wolfgang yang ikut nimbrung dalam pertemuan itu menolak menyebutkannya. (sumber : Jawapost)

Kinerja Guru Tersertifikasi Harus Dievaluasi

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, rencana tentang syarat sertifikasi guru yang mengharuskan para guru untuk memublikasikan karya ilmiahnya sebagai sesuatu yang sangat logis.

Mendiknas mengatakan, selalu ada pertanyaan mendasar setelah guru ditetapkan menjadi profesi dan tersertifikasi. Pertanyaan itu terkait sifat dari sertifikasi, yakni apakah mengikat sepanjang hayat atau ada periodesasi untuk mengevaluasi tentang kompetensi profesionalitasnya. Karena sertifikasi itu bertujuan memastikan profesionalitas, sedangkan sifat dari profesionalitas itu sangat fluktuatif, maka kualitas guru bisa naik dan menurun kapan saja.

"Memang sampai saat ini kami belum menentukan berapa tahun harus direview dan dievaluasi tentang sertifikasi yang terkait dengan profesionalitas tersebut," kata Nuh, Jumat (9/9/2011) di Jakarta.

Permasalah lainnya terkait dengan kinerja guru. Setelah disertifikasi seorang guru harus benar-benar menunjukkan peningkatan kinerjanya. Kemdiknas saat ini sedang menyiapkan evaluasi bagi para guru yang sudah mendapatkan sertifikasi atau kemaslahatan sebagai seorang profesional.

Ini menjadi penting, bukan karena untuk mengungkit apa yang sudah diberikan kepada para guru, akan tetapi Mendiknas menilai bahwa pemenuhan tuntutan masyarakat adalah hal yang utama. Hal ini juga terkait langsung dengan konsekuensi dari seseorang yang sudah mendapatkan kemaslahatan dari profesinya.

Nuh memaparkan, ada tiga variabel yang harus dievaluasi terkait dengan kinerja guru. Pertama adalah absentisme atau tingkat kehadiran. Absentisme menjadi hal paling utama dalam evauasi kinerja para guru karena dapat diketahui berapa jam guru tersebut mengajar dan berapa jam waktu mengajar yang hilang.

Variabel kedua yaitu kinerja tentang prestasi dari siswanya karena ini merupakan ujung dari hasil mengajar guru tersebut. "Misalnya saya guru matematika, berapa tingkat kelulusan siswanya? Oleh karena itu harus dievaluasi dan dikaitkan dengan nilai yang dicapai oleh siswanya," ujar Nuh.

Variabel ketiga dalam evaluasi kinerja guru lebih masuk ke wilayah kolektif, yaitu sampai sejauh mana peran sang guru dalam membangun budaya belajar di sekolah. Ini sama halnya dengan kegiatan ekstrakurikuler guru, misalnya ia ikut menulis pengembangan keilmuan, memberikan pendampingan pada kegiatan Pramuka dan sebagainya, yang ujungnya itu bisa membangun budaya di sekolah. "Itulah hal-hal yang harus dilakukan di dalam konteks mengevaluasi kinerja guru," tuturnya.

Mendiknas Setuju Jam Ajar Guru Ditambah

JAKARTA--Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh sepakat adanya wacana penambahan jam mengajar minimal guru, dari 24 jam menjadi 27,5 jam per minggu yang diusulkan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).

"Kami sangat menghargai usulan dari menpan untuk menaikkan dari 24 jam ke 27,5 jam atau bahkan ke 30 jam," kata Nuh di Gedung Kemendiknas, Jakarta, Jumat (9/9).

Menurutnya, biasanya jam mengajar para guru itu rata-rata sebanyak 34 jam per minggu. Namun begitu, 27,5 jam tersebut tidak dihitung hanya berdasarkan jumlah jam tata muka di kelas saja. "Tidak hanya mengajar di depan kelas itu saja, tapi juga persiapan-persiapan untuk mengajar. Itu pun juga harus dimasukkan sebagai bagian dari work hours-nya itu," lanjut Nuh.

Mantan Rektor ITS ini menilai, usulan 27,5 jam atau 30 jam tidak harus diterjemahkan secara kaku. "Tapi bisa dimasukkan juga kegiatan yang bersifat pendampingan ke siswa atau memberikan bimbingan siswa di lapangan. Sehingga bisa dimasukkan sebagai bagian dari beban mengajar," ujarnya.

Hanya saja, hingga kini Kemdiknas belum ada sistem yang dapat digunakan untuk menghitung akurasi jumlah beban jam mengajar di luar tatap muka. Terlebih lagi pasca sertifikasi guru, yang sebenarnya sistem evaluasi tersebut sangat dibutuhkan untuk mengukur kinerja guru. "Nah, kita juga belum menentukan cara menilai kinerja itu. Apakah sertifikasi seorang guru itu bisa benar-benar meningkatkan kinerja atau tidak," imbuhnya.

Nuh menambahkan, saat ini Kemdiknas tengah mempersiapkan evaluasi kinerja dari guru yang sudah dapat sertifikasi atau kemaslahatan seorang profesional. Setelah guru menjadi profesi dan sudah disertifikasi, lanjut Nuh, harus ditentukan masa berlaku sertifikasi tersebut. "Sertifikat tadi itu sertifikat sepanjang hayat, atau ada periodesasi untuk mengevaluasi tentang kompetensi profesionalnya itu. Mengingat profesionalisme sangat fluktuatif," ungkapnya. Sumber Kompas

Selasa, 09 Agustus 2011

Pola Distribusi Guru Bakal Ditata Ulang

penjasorkes.com – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) merencanakan penataan ulang dalam hal distribusi guru. Pola baru distsibusi guru disiapkan menyusul adanya rencana pemerintah memberlakukan moratorium pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP & PMP) Kemdiknas, Syawal Goeltom, menyebutkan, penataan ulang tersebut meliputi dua cara, yakni multi-grade teacher dan kewenangan mengajar dua bidang studi. Kedua cara tersebut dilakukan karena dinilai akan lebih efiesien dan efektif.

"Selain itu, cara ini juga sebagai bentuk antisipasi atas tingginya jumlah guru yang pensiun. Sementara di sisi lain, pemerintah akan memberlakukan moratorium pengangkatan PNS,” terang Syawal, di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Selasa (9/8).

Dalam hal penerapan multi grade teacher, kata Syawal menjelaskan, setiap guru memiliki kewenangan untuk mengajar tidak hanya di SMA, namun juga di SMP. Demikian pula dengan guru SMP, memiliki kewenangan mengajar di SMA.

“Sedangkan, cara kedua yang memberikan kewenangan guru untuk mengajar dua bidang studi sekaligus itu maksudnya guru matematika bisa juga diberdayakan untuk mengajar fisika. Sehingga, ada mayor dan minor bidang studi yang dikuasai,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, pada prinsipnya komposisi perbandingan jumlah guru dengan siswa di Indonesia sudah tergolong lebih dari cukup, yakni 1 guru : 18 siswa. “Di Negara-negara lain pun paling 1 : 20 atau 1: 24, jadi di Indonesia itu sudah sangat mewah sekali,” ungkapnya.

Namun dengan jumlah guru yang berlimpah tersebut, jika distribusinya tidak diatur maka kemungkinan target yang dipatok dalam Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 agar
seorang guru memenuhi target jam mengajar 24 jam dalam seminggu akan sulit tercapai. “Dengan pola distribusi yang sekarang, paling hanya 60 persennya saja yang dapat mencapai target 24 jam mengajar dalam seminggu, sehingga hanya segitu itu yang bias mendapat tunjangan profesi,” tutur dia.

Syawal mengatakan, guru yang ada saat ini dapat dijadikan guru yang memiliki kewenangan ganda tersebut. “Kalau sekarang sudah jadi guru matematika, tinggal kita tambah kuliah lagi 20 Sistem Kredit Semester (SKS) untuk belajar Fisika misalnya, jadi lebih efisien dan efektif,” ujar Syawal.

Selain itu, rencana redistribusi guru ini juga akan didukung dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri. Antara lain, Mendiknas, Mendag, Mendagri, MenPAN/RB dan Menkeu. “Namun dalam proses koordinasinya, Kemdiknas akan bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan MenPAN/RB,” imbuhnya. (sumber Jawapost)

Senin, 08 Agustus 2011

Soal Masturbasi, Manusia Paling Cerdas

penjasorkes.com — Sampai saat ini, banyak peneliti masih bingung dan berusaha mencari jawaban ilmiah tentang kebiasaan masturbasi. Pertanyaannya, dalam strategi untuk bertahan hidup, apakah ada alasan ilmiah sehingga makhluk hidup termasuk manusia harus mempertahankan kebiasaan bermasturbasi?

Fakta menunjukkan bahwa perilaku bermasturbasi tidak hanya dilakukan manusia. Banyak hewan juga melakukannya dengan perilaku yang berbeda-beda. Nah, bagaimana perilaku masturbasi itu, yuk diintip.

1. Gajah Gajah melakukan masturbasi dengan cara menggosokkan alat kelaminnya ke batu. Keras memang, tapi itu mungkin bukan masalah bagi gajah.

2. Landak Menjelang masa birahi, landak biasanya menggosok-gosok alat kelaminnya dengan makanan, air, atau barang-barang lain yang ditemukannya.

3. Tupai Tupai jantan bisa melakukan masturbasi hingga ejakulasi, kemudian mengonsumsi hasil ejakulasinya sebagai "genital grooming" alias perawatan alat kelamin. Sperma hasil ejakulasi akan mempertahankan kelembaban alat kelamin.

4. Kura-kura Kura-kura bermasturbasi dengan cara menggosok-gosokkan penisnya ke tembok, batu, atau permukaan lain.

5. "Walrus" atau gajah laut Mungkin gajah laut yang paling unik. Mereka biasa menggunakan siripnya untuk bermasturbasi atau mulutnya untuk melakukan self fellatio alias oral seks mandiri.

6. Burung Burung betina melakukan masturbasi dengan membengkokkan sayap bagian belakangnya sehingga bisa menyentuh kloaka, saluran reproduksi mereka. Kemudian, burung betina akan menggosok-gosok bagian itu.

7. Kuda Kuda jantan melakukan masturbasi dengan menggosok-gosokkan penisnya ke bagian bawah perutnya. Sementara itu, kuda betina melakukan masturbasi dengan menggosokkan alat kelaminnya ke obyek lain.

8. Anjing Anjing gemar bermasturbasi dengan menggosokkan alat kelaminnya ke obyek lain, termasuk manusia. Mereka juga suka menjilati dirinya.

9. Manusia Manusia sangat goal oriented dalam hal bermasturbasi. Menurut mereka, masturbasi harus selalu diikuti dengan orgasme dan ejakulasi. Karena goal oriented-nya dan berbagai macam cara yang mereka miliki, manusia dikatakan paling cerdas dalam bermasturbasi. (kompas-helth)

Persebaya 1927 Incar Level I

penjasorkes.com - Persebaya 1927 sama sekali tak keberatan dengan persyaratan yang dipatok PSSI untuk melangkah ke kompetisi level I. Klub yang ber-home base di Gelora 10 Nopember, Surabaya tersebut optimistis bisa bersaing dengan kontestan lain.

Menurut CEO Persebaya 1927 LLano Mahardhika, klubnya hanya terganjal satu dari lima aspek penilaian yang disyaratkan. Yakni pada infrastruktur. Untuk empat aspek lainnya, legal, finansial, administrasi personal, dan supporting, dia optimistis timnya bakal lolos verifikasi. "Kami tak punya lagi selain Gelora 10 Nopember. Gelora Bung Tomo juga megah tapi tidak memenuhi syarat kelengkapan AFC," kata pria yang pernah menjabat sebagai manajer verifikasi PT Liga Indonesia tersebut.

Tapi jika menilik stadion yang tersebar di tanah air, Llano optimistis Persebaya 1927 tetap dapat bermain kandang di Gelora 10 Nopember. "Kami juga tak mungkin mengeluarkan dana untuk renovasi kepada fasilitas yang tak kami kelola," terang dia. Lagipula, stadion berkapasitas 35 ribu penoton itu juga menjadi home base Persebaya saat berlaga di ISL.

Kekurangan Gelora 10 Nopember memang tak sedikit. Daya tampung penonton tak sebanding dengan suporter klub tersebut. Kekuatan lampu di stadion itu juga belum memenuhi standard AFC dan memantik keluhan pemain setiap kali bermain malam.

Nah, empat aspek lainnya bisa dimunculkan ketika finansial mendukung. Aspek legal sudah dipenuhi Persebaya 1927 dengan mengusung PT Persebaya Indonesia. "Anytime tim bisa berubah. Kami juga dapat siapkan semua pendukungnya," kata dia. Termasuk, tim junior mulai dari U-21 dan di bawahnya.

Llano yakin jika PSSI dapat mengakomodasi keinginan klub-klub yang berharap bisa membawa angin perubahan. "AFC dan PSSI sudah membuat aturan sedemikian rupa dengan melihat prospek lima tahun ke depan, bukan hanya saat ini," kata Llano. Maka, dia berharap tim-tim yang tak mampu untuk bersaing harus legawa. Sebab, kasta tertinggi sepak bola memang harus memiliki modal yang stabil sebagai bekal utama. "Jangan bicara tim lebih dulu. Kalau internal solid maka klub terbaik bisa dibentuk," tukas Llano. (vem/ko)

Rabu, 03 Agustus 2011

Musim Kompetisi 2011-2012 Digelar 8 Oktober 2011

kdm.net - Kepastian kapan digelarnya roda kompetisi PSSI musim 2011-2012 sudah mulai menemukan titik terang, dalam workshop yang digelar PSSI untuk membahas mengenai format kompetisi musim depan, tercetus tanggal 8 Oktober sebagai awal kompetisi baru.

Dalam workshop yang dihadiri oleh perwakilan klub Indonesia Super Liga (ISL) dan Divisi Utama serta perwakilan AFC tersebut, dipaparkan format kompetisi serta rencana dimulainya kompetisi musim depan serta tahapan-tahapan persiapan.

"Deadline AFC untuk kompetisi sebelum 14 Oktober 2011. Sehingga kami menetapkan tanggal 8 Oktober untuk memastikan kami benar-benar telah memenuhi persyaratan yang diminta AFC tepat waktu dan terencana," ujar Koordinator Kompetisi, Sihar Storus.

Selain itu, peserta workshop juga mendapat tugas dari PSSI untuk segera melengkapi sejumlah dokumen, di antaranya dokumen legalitas, keuangan, infrastruktur, personal dan juga sporting (pembinaan usia dini) sebagai bagian dari kelengkapan sebuah klub profesional.

PSSI juga memberikan tenggat waktu yakni hingga 21 Agustus nanti, setelah itu PSSI akan melakukan verifikasi dokumen yang telah masuk.

Selain melengkapi dokumen, klub-klub ISL dan juga Divisi Utama diharuskan menyetorkan participant deposit sebesar 5 miliar ke rekening PSSI, dan juga surat jaminan atas kesanggupan pembiayaan klub selama 3 musim kompetisi.

Selanjutnya pada 25 Agustus, PSSI akan mengumumkan peserta kompetisi dan pada 3 September PSSI akan memberikan laporan kepada AFC.

Tertawa, Olahraga untuk Jantung

kdm.com — Ingin tahu rahasia jantung sehat? Mungkin dokter akan menuliskan resep untuk tertawa 1 x 15 menit setiap hari. Sebuah studi menunjukkan, tertawa bisa meningkatkan peredaran darah yang nantinya jika dilakukan secara rutin bisa menjadi pelindung dari penyakit jantung yang ampuh. Tidak percaya?

Benar! Para peneliti dari Maryland Medical Center meminta 20 orang dewasa yang sehat untuk menonton adegan dari dua film yang berbeda, satu film komedi dan yang satu lagi film peperangan. Saat mereka menonton, para peneliti memantau kerja fungsi arteri mereka. Seusai menyaksikan video yang lucu, pembuluh darah para relawan melebar sebesar 22 persen dan menyempit 35 persen setelah melihat adegan peperangan.

Pelebaran akan membuat darah mengalir melalui pembuluh darah tanpa rasa nyeri serta membuat jantung dan arteri berkontraksi. “Ini juga yang terjadi ketika kita melakukan latihan aerobik,” ujar Michael Miller, MD, salah satu peneliti.

Tertawa bisa memicu pelepasan oksida nitrat, yaitu senyawa yang akan membuat rileks sel-sel darah,” tambah Miller. Plus, senyawa ini juga akan melepaskan endorfin, hormon yang bertugas memperbaiki pembuluh darah. Saran dari Miller, sediakan waktu setidaknya 15 menit untuk tertawa benar-benar setiap hari. (kompas)

Daftar Nama Pemain Seleksi Timnas U-23

Bola.net - Timnas U-23 mengumumkan daftar nama pemain yang lolos seleksi untuk mengikuti pelatnas SEA Games 2011. Ada 24 nama pemain yang terpilih dalam seleksi Timnas U-23 yang dilaksanakan di Kota Batu, Jawa Timur.

Selain 24 nama pemain yang diumumkan pada Sabtu (30/7) ini, juga akan bergabung enam pemain yang telah tergabung di timnas senior, yakni Kurnia Meiga, Egi Melgiansyah, Gunawan Dwicahyo, Ferdinand Sinaga, Octovianus Maniani, dan Irfan Bachdim.

Sementara itu empat nama lainnya akan mengikuti seleksi susulan, yakni Patrick Wanggai, Andik Virmansyah, Marcelino Mandagi, dan Fery Bayu Thomas.

Berikut nama-nama daftar pemain pelatnas Timnas U-23.

Penjaga gawang:
Andretani Adyaksa (Persija)
Johan Angga Kusuma (Persijap)
Rifky Mokodompit (Persita)

Bek:
Abdurrahman (Pelita Jaya)
Ngurah Wahyu Trisnsjaya ( Persija )
Septyahadi ( PSPS )
Irfan Raditya (Arema)
Joko Sidik (Bontang FC)
Stevie Bonsapia (Persipura)
Hasyim Kipuw (Persija)
Hendro Siswanto (Persela)

Gelandang:
Johan Juansyah (Persijap)
Joko Sasongko (Pelita Jaya)
Mahardika Lasut (Sriwijaya FC)
Juned Hardianto Wibowo (Solo FC)
Dendi Santoso (Arema)
Ramdani Lestaluhu (Persija)
Kim Jeffry Kurniawan (Persema)
Zulham Zamrun (Persela)

Penyerang:
Yongky Aribowo (Arema)
Titus Bonai (Persipura)
Jajang Mulyana (Sriwijaya FC)
Lucas Mandowen (Persipura)
Fauzi Rishaldi (Persita)

Daftar nama pemain yang akan mengikuti seleksi susulan:
Patrick Wanggai (Persidafon)
Andik Virmansyah (Persebaya 1927)
Marcelino Mandagi (Bontang FC)
Fery Bayu Thomas (Persela 21)

Daftar pemain yang sudah ada di timnas senior:
Kurnia Meiga (Arema)
Egi Melgiansyah (Persijap)
Gunawan Dwicahyo (Sriwijaya FC)
Octovianus Maniani (Sriwijaya FC)
Ferdinand Sinaga (Persijap)
Irfan Bachdim (Persema Malang) (ant/zul)

Rabu, 09 Februari 2011

Satu Miliar buat Emas Olimpiade

Sekjen PBSI, Jacob Rusdianto, menyebut pihaknya menyediakan bonus Rp 1 miliar buat pemain yang mampu mempertahankan tradisi emas bulu tangkis di Olimpiade London 2012.

Hal ini diungkapkan oleh Jacob dalam acara diskusi bulu tangkis yang dilakukan di Redaksi Kompas, Rabu (9/2/2011). Diskusi ini dihadiri insan bulu tangkis dari pengurus seperti Jacob dan pelatih kepala Christian Hadinata, mantan pemain Susy Susanti, Alan Budikusuma dan Elizabeth Latief, kalangan pemilik klub seperti Handoyo dan Joppy Rosimin (PB Djarum), Justian dan Juniarto Suhandinata (PB Tangkas Alfamart), serta pengamat olah raga Fritz E Simanjuntak.

Diskusi dipandu Jimmy S Harianto dan Trias Kuncahyono dari Redaksi Kompas.

Jacob dan Christian mengatakan, pihak PBSI tengah mempersiapkan 25 pemain untuk menghadapi Olimpiade London yang berlangsung pertengahan 2012. Namun pihaknya juga mengatakan imbalan ini juga tidak tertutup bagi para pemain yang tidak lagi bergabung dengan Pelatnas Cipayung, seperti Taufik Hidayat, Markis Kido/Hendra Setiawan, Vita Marissa, Alvent Yulianto dll.

"Saya pribadi menganggap tidak ada pengotak-kotakan pelatnas dan nonpelatnas. Nyatanya Alvent, Vita, dan Kido, serta Hendra dua kali seminggu berlatih bersama di Cipayung," katanya. Christian membenarkan hal ini dan menganggap kehadiran para pemain senior ini mampu memberi variasi dalam latihan buat para pemain muda.

Khusus buat Kido/Hendra, diakui oleh Christian memang ada perlakuan khusus. "Kido dan Hendra di proyeksikan oleh Pak Ciputra dari PB Jaya Raya untuk dapat meraih medali emas Olimpiade seperti 2008 lalu. Karena itulah ketika mereka meminta pelatih ganda putera Sigit Pamungkas untuk melatih mereka, kami dapat mengerti," kata Jacob lagi.

Menurut Jacob, pihak PBSI juga kesulitan karena diberi target yang lebih dekat yaitu meraih 4 medali emas di SEA Games. "Ini sudah harga mati yang harus kami persembahkan," kata Jacob. "Semua dana yang ada sekarang diperuntukkan bagi target jangka pendek ini, menjadi juara umum SEA Games."

Indonesia meraih medali emas Olimpiade untuk pertamakali lewat cabang bulu tangkis di Barcelona pada 1992. Saat itu emas diraih Susy Susanti dan Alan Budikusumah. Setelah itu emas diraih melalui Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1996), Tony Gunawan/Candra Wijaya (2000), Taufik Hidayat (2004) dan markis Kido/Hendra Setiawan (2008).

Rabu, 29 Desember 2010

Bravo, Suporter Indonesia !

Terima Kasih, Suporter!
Suporter Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi hasil yang diraih timnas.

Air mata boleh saja meleleh saat menyaksikan tim nasional Indonesia tak mampu menjadi juara AFF Suzuki Cup 2010. Tapi ada satu hal yang patut dibanggakan. Bukan PSSI, tentu. Namun acungan dua jempol itu patut diberikan kepada pemain ke-12 kita, suporter!

Ketidakmampuan skuad Merah Putih mengangkat tropi AFF ternyata tak membuat mereka meluapkan segala kekecewaannya. Sinyalemen akan adanya rusuh tidak terbukti. Para suporter ternyata masih tetap bisa berjalan dengan kepala tegak ketika meninggalkan tempat pertandingan di Stadion Gelora Bung Karno, Rabu (29/12) malam.

Sportifitas suporter kian dipertegas ketika mereka memberi dukungan kepada timnas di final leg kedua melawan Malaysia. Meski ada yang memainkan laser, toh perilaku mereka tidak terlalu berlebihan. Setidaknya jika pembanding itu disandingkan dengan suporter Malaysia yang sempat membuat laga final leg pertama harus dihentikan sementara.

Dengan sikap legowo menerima kekalahan dan selalu setia memberi dukungan, suporter secara langsung telah memberi pembelajaran besar kepada para pemimpin negeri ini. Tak alpa tentunya, para pengurus induk organisasi sepakbola negeri ini, PSSI.

Para suporter bukanlah segerombolan anak manusia yang suka mengobral janji dan gemar memainkan kata-kata manis. Tapi mereka memberi bukti. Bukti itu ditunjukkan langsung di depan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan juga Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI.

Secara psikologis, suporter meluapkan amarahnya mungkin bisa dimahfumi -- jika itu memang menjadi kenyataan. Betapa tidak, untuk datang ke stadion mental mereka sudah dipermainkan gara-gara urusan tiket yang tak becus. Bukan jadi kisah melankolis lagi jika banyak suporter kita harus rela mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan tiket.

Perjuangan mereka juga sempat diuji setelah memperoleh voucher. Voucher ini merupakan tahap awal sebelum memperoleh tiket masuk. Cukup banyak para suporter yang sudah memperoleh voucher ternyata harus gigit jari. Soalnya, tak sedikit voucher-voucher itu yang dianggap tidak sah oleh panitia lokal.

Tapi ada lagi yang lebih miris. Tiket yang sudah ditangan ternyata tak bisa dimanfaatkan. Effendi, suporter asal Meruya, Jakarta, adalah contohnya. Karyawan konsultan properti ini harus merelakan tiket VIP Timur. Ia membelinya seharga Rp500 ribu. Namun tiket itu hanya menjadi lembaran yang mungkin akan dikenangnya kelak.

"Saya tak bisa menonton di dalam," keluhnya. "Tiket saya yang seharusnya memiliki nomor bangku, ternyata tidak ada gunanya. Ya sudah, saya hanya menonton saja layar lebar yang ada di luar stadion."

Tapi, seperti puluhan ribu suporter yang datang ke Senayan. Effendi tetap bisa tersenyum. Tak ada amarah yang musti ia luapkan. Effendi bersama puluhan ribu suporter lainnya selalu bisa berbesar hati untuk memberi dukungan yang tulus kepada timnas.

Mereka mendukung tanpa ada maksud. Bahkan, mereka tak pernah terbetik untuk memolitisasi dukungan yang sudah mereka berikan kepada timnas. Apalagi, berniat mencari untung finansial dan popularitas dari euforia timnas. Justru, lembaran rupiah secara ikhlas diberikan para suporter demi memberi semangat Firman Utina dkk.

Loyalitas tiada tara itu juga dipertajam dengan kian dewasanya sikap para suporter nasional. Skuad Garuda boleh saja menyerah dari pasukan Harimau Malaya di dalam lapangan. Tetapi di pinggir lapangan, para suporter Merah Putih telah mampu menunjukkan sportifitas mereka yang sebenarnya.

Usai hiruk-pikuk meredup, ketika stadion mulai lengang dari jejalan penonton yang hendak pulang, pekik Indonesia ternyata masih tetap saja terdengar sayup. Lalu, tersisa pula satu pertanyaan yang tak pernah henti terngiang.

Kapankah pekik lantang dari hati bersih pemain ke-12 itu bisa benar-benar mengusik hati para pengurus sepakbola negeri ini untuk segera berbenah diri? Ah, suporter memang selalu memberi bukti untuk mendukung timnas tanpa ada membawa beragam misi dan kepentingan. Sedangkan yang lain, entahlah? Terima kasih, suporter!

Bojonegoro Mundur dari ISL

Persibo Resmi Mundur Dari Superliga
Setelah lama berada di tangan manajer Persibo Bojonegoro, akhirnya surat pengunduran diri resmi dikirim.

699 Share
Mochamad Irfan & Muhammad Hamzah - Persibo Bojonegoro (GOAL.com/Muhammad AQ)
Galeri Foto
Perbesar
Mochamad Irfan & Muhammad Hamzah - Persibo Bojonegoro (GOAL.com/Muhammad AQ)
Terkait
Tim

* Persibo

Keputusan Persibo Bojonegoro untuk mundur dari Superliga Indonesia 2010/11 akhirnya menjadi kenyataan. Jika sebelumnya hanya sebatas wacana saja, kali ini manajemen telah mengirim surat ke PSSI. Inti surat bernomor No. 290/Persibo/XII/2010 yang dikirim ke PT Liga Indonesia tersebut adalah pengunduran secara resmi Laskar Angling Dharma.

Alasan utamanya adalah masalah pendanaan yang melilit Persibo Bojonegoro. Padahal, dalam aturan PT Liga Indonesia, jika klub yang mengikuti kompetisi harus sudah berbadan usaha atau menjadi PT dan secara otomatis Persibo tidak bisa mendapatkan dana dari Pemkab Bojonegoro lagi.

“Memang benar, surat pengunduran diri di Superliga sudah kami buat dan telah dikirim," terang manajer Persibo, Taufik Risnendar.

Dijelaskan, jika mulai Bulan November 2010 lalu manajemen sudah tidak bisa lagi membiayai gaji pemain dan kebutuhan klub yang cukup besar.

"Rata-rata minimal Rp900 juta/bulan pengeluaran yang harus kami keluarkan," jelasnya.

Yang jelas, menurut Taufiq, jika ada denda tidak bisa terbayar, maka pemain tersebut secara otomatis tidak bisa dimainkan.

"Kami sudah kebingungan menjalankan klub, padahal beberapa pihak juga telah kami tawari untuk ikut pengelolaan, tetapi semuanya enggan," kata Taufiq.

Dengan kondisi tersebut dan dukungan sejumlah pihak, termasuk Bupati Bojonegoro Suyoto akhirnya LPI menjadi pelabuhan.

"Manajemen juga mencari permainan yang kompetitif dan fair, sehingga di LPI harapan itu diserahkan," lanjutnya.

Malaysia Juara Baru AFF 2010

Malaysia Juara Baru AFF

Kemenangan 2-1 yang diraih Indonesia atas Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Rabu [29/12] malam, tidak cukup untuk mengantarkan tim Garuda mengangkat trophi AFF Suzuki Cup 2010.

Hasil itu membuat Malaysia unggul agregat 4-2, karena pada leg pertama di Stadion Nasional Bukit Jalil memetik kemenangan 3-0. Keberhasil itu merupakan sukses pertama Malaysia di turnamen sepakbola ASEAN dua tahunan tersebut, meskipun kalah dari Indonesia dua kali. Malaysia juga mendapat satu gelar tambahan dengan tampilnya Mohd Safee Sali menjadi topskor dengan torehan lima gol.

Di lain sisi, kemenangan atas Malaysia ini semakin menguatkan posisi Indonesia sebagai jago kandang. Dari enam pertandingan yang dijalani, tim Merah Putih belum pernah sekalipun menelan kekalahan.

Tampil di hadapan sekitar 80 ribu pendukungnya, Indonesia langsung tampil agresif untuk menekan pertahanan Malaysia. Sedangkan tim Negeri Jiran yang sudah mengantungi keunggulan tiga gol lebih cenderung bertahan sambil sesekali melakukan serangan balik.

Indonesia mendapatkan peluang emas untuk unggul lebih dulu setelah mendapat hadiah penalti atas pelanggaran handsball yang dilakukan Mohd Sabre pada menit ke-19. Firman Utina yang ditunjuk sebagai eksekutor gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangan Firman yang lemah dengan mudah diantisipasi Khairul Fahmi Che Mat.

Malaysia pun memberikan respon dua menit kemudian. Melalui serangan balik cepat, Malaysia berhasil mendapatkan peluang. Namun tendangan Mohamad Ashari mampu diblok kiper Markus Haris Maulana.

Setelah terkejut dengan serangan balik cepat, tim Garuda memberikan reaksi melakukan tekanan hebat ke pertahanan Malaysia. Di menit ke-25, sundulan Cristian Gonzales menyambut umpan Ridwan masih melebar dari gawang. Empat menit kemudian, umpan Ridwan kepada El Loco masih dapat dipotong Khairul Fahmi.

Selepas itu, praktis Indonesia lebih mendominasi permainan. Sejumlah peluang emas pun didapat untuk unggul lebih dulu melalui El Loco dan Arif Suyono, tapi tak satu pun membuahkan gol. Hingga babak pertama usai, skor imbang tanpa gol tetap bertahan.

Di babak kedua, Indonesia tetap tidak mengendurkan serangan ke pertahanan Malaysia. Tim Harimau Malaya pun semakin memperkokoh tembok belakangnya sambil sesekali melakukan serangan balik cepat. Malaysia hanya menempatkan Mohd Safee Sali sendirian di barisan belakang Indonesia.

Taktik ini membuahkan hasil. Lemahnya barisan belakang Indonesia dalam mengantisipasi serangan balik harus dibayar mahal pada menit ke-54. Berawal umpan jauh dari lini belakang, Safee Sali dengan mudah mengontrol bola, dan melewati dua pemain belakang, sebelum akhirnya menceploskan bola ke gawang Markus.

Tertinggal satu gol, mental pemain Indonesia turun drastis. Permainan agresif yang diperlihatkan di babak pertama tidak tampak di paruh kedua. Serangan yang dibangun dengan mudah dipatahkan barisan belakang Malaysia.

Setelah bermain tanpa arah, Indonesia akhirnya mampu menyamakan kedudukan melalui M Nasuha pada menit ke-73. Berawal dari penetrasi Ahmad Bustomi. Gelandang Arema Indonesia ini melepaskan tendangan. Tapi tendangan Bustomi diblok Khairul Fahmi. Bola muntah lalu disambar Nasuha.

Malaysia mulai memberikan perlawanan untuk mengimbangi permainan agresif Indonesia. Malaysia nyaris unggul lagi pada menit ke-81. Tapi sundulan Norsahrul Idlan Talaha masih dapat ditepis Markus.

Indonesia berbalik unggul pada menit ke-87 melalui tendangan M Ridwan yang sempat membentur pemain belakang Malaysia. Tendangan bebas Bambang Pamungkas menjelang laga usai nyaris memperbesar keunggulan. Namun Khairul Fahmi sigap menghadang bola.

Walau berusaha memperbesar keunggulan, Indonesia tetap tidak mampu menambah pundi-pundi gol. Skor 2-1 tetap bertahan hingga pertandingan berakhir. Malaysia pun tampil sebagai juara baru di wilayah ASEAN dengan merebut AFF Suzuki Cup 2010

Sabtu, 11 Desember 2010

Hakikat Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Pengertian Pendidikan Jasmani

Pengertian pendidikan jasmani dan olahraga secara konseptual terdapat perbedaan, namun demikian para praktisi pendidikan (dosen dan guru pendidikan jasmani) masih belum ada kesamaan pandang dalam melihat kedua hal tersebut. Untuk lebih memahami perbedaan dan persamaan konsep pendidikan jasmani dan olahraga perlu terlebih dahulu memahami konsepsi dasar & play, games, contests, transports. Kegiatan pendidikan jasmani lebih luas dibandingkan kegiatan olahraga, meliputi: play, games, contest, dan sports serta aktivitas lain yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia secara keseluruhan.
Terdapat perbedaan pendapat mengenai pengertian pendidikan jasmani dan olahraga yang digunakan di Indonesia. Ada yang berpendapat bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah dua istilah yang mempunyai satu pengertian yang sama, apabila berbeda hanya pada intensitasnya. Pendapat lain mengatakan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga sangat berbeda dalam hal konsep, prinsip dan prosedur yang dilakukannya.

Perkembangan Istilah Pendidikan Jasmani

Beberapa istilah yang pernah digunakan dalam kegiatan pendidikan jasmani di sekolah sampai sekarang, yaitu: gerak badan (1945-1950), pendidikan jasmani (1950-1961), olahraga (1961-1966), olahraga pendidikan (1967-1977), pendidikan keolahragaan (1978-...) (Soebroto, 1978). Demikian pula nama lembaga pendidikan yang mempersiapkan profesi bidang keolahragaan. Pada pendidikan menengah yang pernah digunakan, yaitu: Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPD), Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA), Sekolah Guru Olahraga (SCO). Sedangkan pada pendidikan tinggi nama-nama yang pernah digunakan yaitu Akademi Pendidikan Jasmani (APD), Kursus BI dan BII Pendidikan Jasmani, Jurusan Pendidikan Jasmani pada Fakultas di beberapa universitas, Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Fakultas Keguruan dan Ilmu Keolahragaan (FKIK) dan Fakultas Pendidikan; Olahraga dan Kesehatan (FPOK). Istilah terakhir yang digunakan berdasarkan SK Mendikbud No.0413/U/1987 dalam kurikulum tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah yaitu Pendidikan Jasmani.
Istilah lain yang sering dipakai dalam studi pendidikan jasmani meliputi: pendidikan gerak (movement education), ilmu gerak (kinesiology), pendidikan olahraga (sport education), pendidikan jasmani (physical education), olahraga (sport), ilmu- ilmu fisik terapan (applied physical sciences), pendidikan motorik (motor education) serta pendidikan jasmani dan olahraga (physical education and sport)(Bucher, 1983), ilmu keolahragaan (sport sciences) (Haag, 1975; Nixon dalam Vendien, 1985), kinantropologi (Benneth, 1983X).
Ketetapan MPR RI No.H/MPR/1978, TAP No. II/MPR/1983 dan TAP No. II/MPR/1988 dalam Garis-garis Besar Haluan Negara menggunakan istilah pendidikan jasmani dan olahraga secara terpisah. Perkembangan lebih lanjut dalam TAP No.II/MPR/1993 istilah pendidikan jasmani tidak ada, yang ada hanya istilah olahraga, sedangkan pendidikan jasmani muncul dalam Undang-undang Nomor 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 39, ayat 3 butir k, menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran dan isi kurikulum bagi pendidikan dasar. Surat Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga No.0013/MENPORA/84 tanggal 1 Juni 1984 tentang "Pola Dasar Pembangunan Olahraga" memberikan pengertian keolahragaan, olah raga dan pendidikan jasmani secara berbeda. Keolahragaan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang merupakan satu pengertian yang sama ruang lingkupnya dengan physical education and sport seperti yang dinyatakan dalam International Charter of Physical Education and Sport dari UNESCO. Dalam undang-undang R.I No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, istilah yang dipakai untuk olahraga di sekolah adalah olahraga pendidikan.
Berdasarkan perkembangan istilah yang pernah digunakan untuk kegiatan olahraga di sekolah, istilah pendidikan jasmani dan olahraga merupakan pengertian yang dapat ditelusuri sumber kepustakaannya. Pendidikan jasmani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris physical education, sedangkan olahraga berasal dari kata sport. Berdasarkan dokumen resmi yang ada, istilah pendidikan jasmani digunakan untuk kalangan pendidikan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan olahraga untuk kegiatan di luar pendidikan yang berorientasi pada peningkatan prestasi melalui berbagai pertandingan dan perlombaan. Untuk dapat membedakan pengertian pendidikan jasmani dan olahraga, pembahasan berikut akan melihat hubungan antara bermain, olahraga dan pendidikan jasmani. Karena dalam pengertian pendidikan jasmani mengandung unsur bermain dan juga olahraga.
Tujuan Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasmani (atau Pendidikan Olahraga) ialah bagian yang integral dari seluruh proses pendidikan yang bertujuan untuk perkembangan fisik, mental, emosi dan sosial melalui aktifitas jasmani yang telah dipilih untuk mencapai hasilnya (Bucher, 1983). Dengan demikian maka program pendidikan jasmani harus selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN No: 20 Tahun 2003, Pasal 3), disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam undang-undang R.I No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, istilah yang dipakai untuk olahraga di sekolah adalah olahraga pendidikan. Pada Bab VI pasal 17 disebutkan bahwa olahraga pendidikan: (1) diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan, (2) dilaksanakan baik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal melalui kegiatan intrakurikuler dan/atau ekstra kurikuler, (3) dimulai sejak usia dini, (4) dibimbing oleh guru/dosen olahraga dan dapat dibantu oleh tenaga keolahragaan yang disiapkan oleh setiap satuan pendidikan.
Hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan tujuan pendidikan jasmani antara lain dikemukakan oleh Comite on Objective of American Physical Education (1934) menyebutkan 5 tujuan pendidikan jasmni, yaitu: (1) kesegaran jasmani, (2) kesehatan mental, (3) moral dan sosial, (4) ekspresi dan kontrol emosi, dan (5) apresisi.
Studi Agnes Stoodley (1974) di Stanford University dengan menganalisis 22 literatur yang berbeda, menghasilkan 5 komponen tujuan pendidikan jasmani, yaitu: pengembangan kesehatan, pengembangan mental-emosional, pengembangan neomuscular, pengembangan sosial, dan pengembangan intelektual
Kerjasama antara American Assosiation For Health Physical Education and Recreation dengan the Society State Director of Health, Phisical Education and rEcreation (1950) menyatakan 4 tujuan, yaitu: pengembangan dan pemeliharaan secara maksimal efisiensi fisik, pengembangan ketrampilan, kemandirian dan hubungan sosial, dan menikmati rekreasi.
Jewet dan Mullan (1977) dibawah sponsor AAHPERD mengembangkan kerangka tujuan dalam kurikulum. Kerangka kerjaitu membagi 3 hal utama yang merupakan kata kunci dalam menentukan kata tujuan pendidikan jasmani hubugannya dengan gerak manusia, yaitu: pengembangan individu, lingkungan, dan interaksi sosial.
Annarino (1978) dalam bukunya Bucher (1983) telah memberikan Aksonomi khusus yang dipakai untuk mendidik jasmani yang tebagi menjadi 4 domain yaitu:
1) Domain Fisik/Jasmani, suatu pengembangan organ-organ tubuh, meli-puti: pengembangan kekuatan, ketahanan dan kelenturan.
2) Domain psikomotor, pengembangan dari sistem syaraf dan kelompok dan kelompok otot sehingga menghasilkan gerak, meliputi; pengembangan kemampuan pemahaman gerak, hinestetis, ketrampilan gerak dasar.
3) Domain Kognitif, pengembangan intelektual meliputi; pengem-bangan pengetahuan serta ketrampilan-keterampilan intelektual dan kecakapan tertentu
4) Domain Afektif, pengembangan sosio-personal-emosional meliputi pola hidup sehat sebagai akibat suatu aktifitas fisik aktualisasi diri dankontrol diri.


Konsep play, games dan sport

Istilah olahraga menurut Webster's New Collegiate Dictionary (1980) yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games). Dalam Ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa olahraga adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan. Sedangkan dalam Pola Pembangunan Olahraga yang disusun Kantor Menpora disebutkan bahwa olahraga adalah bentuk-bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan jasmani yang intensif dalam rangka memperoleh rekreasi, kemenangan dan prestasi optimal (Menpora, 1984).
Chu (1982) mengatakan, untuk memberi pengertian olahraga (sport) secara tepat sangat sulit dilakukan, karena beraneka ragamnya sudut pandang dan orientasinya. la mengutip pendapat Edward (1973), pengertian olahraga bergerak dari pengertian yang luas meliputi play, games dan sport.
Play mempunyai karakteristik: 1) bebas, sukarela, dan tanpa paksaan dalam berpartisipasi, 2) aktivitas bermain terpisah dari pembatasan ruang dan waktu, 3) hasil dari aktivitas bermain adalah sesuatu yang tidak diketahui/ direncanakan sebelumnya, 4) aktivitas murni bermain tidak produktif, tidak menghasil nilai yang permanen, 5) peraturan bermain bergantung pada kondisi, tunduk pada kesepakatan situasional, dan 6) kualitas bermain merupakan bagian dari kehidupan nyata.
Games merupakan bagian dari play, semua games merupakan bentuk dan play, games memiliki semua karakteristik play akan tetapi semua itu diatur dalam peraturan yang sengaja dibuat dan harus ditaati bersama. Kompetisi merupakan ciri utamanya, sehingga hanya individu atau kelompok yang mempunyai standar ketrampilan yang tinggi yang akan berhasil. Untuk berhasil dalam kompetisi akan selalu bergantung pada ketrampilan teknik, fisik, strategi atau kesempatan.

Sedangkan olahraga (sport) merupakan bagian dari permainan pertandingan, perbedaannya terletak pada prasyarat tingkat kecakapan dan, olahraga merupakan permainan pertandingan yang sudah dilembagakan dalam masyarakat seperti halnya pendidikan, agama dan pemerintahan. Ruang lingkup play, games dan olahraga (sport).
Freeman (1987) juga membahas hubungan antara play, games dan sport. la mengutip pendapat Guttman bahwa definisi bermain (play) adalah bentuk kegiatan yang tidak bermanfaat/produktif untuk menyenangkan diri sendiri. Bentuk bermain ada dua macam yaitu yang secara spontanitas dan diorganisasikan, yang spontanitas dinamakan bermain sedangkan yang diorganisasi dinamakan games. Bermain yang diorganisasikan pun ada dua jenis yang tidak dipertandingkan dan dipertandingkan, yang dipertandingkan dinamakan contests. Bermain yang diorganisasi dan dipertandingkan juga ada dua bentuk yang menggunakan fisik dan bukan fisik, yang menggunakan ketrampilan fisik disebut olahraga (sports). Olahraga adalah bentuk bermain yang diorgnisasi dengan peraturan dan dipertandingkan menggunakan tolok ukur ketrampilan fisik. Hubungan antara bermain dan olahraga disajikan dalam Gambar 1.
Olahraga memiliki sifat permainan juga dikatakan oleh Rijsdorp (1975), akan tetapi tidak semua permainan adalah olahraga. Permainan lebih luas dari olahraga, olahraga adalah suatu bentuk khusus dan tersendiri dari bermainan, suatu pertumbuhan dari permainan dengan arah dan tujuan yang disadari dan tertentu. Sifat pertandingan merupakan ciri dari olahraga, sehingga teknik, taktik dan perbaikan kondisi fisik ikut menentukan yang semuanya itu memerlukan latihan yang teratur dan sistematis. Momentum bertanding dalam olahraga adalah bentuk permainan yang pemain-pemainnya mempertaruhkan upah simbolis. Mereka bersepakat tentang tujuan permainan dan peraturan- peraturannya, harus ditaati untuk mencapai tujuan itu. Siapa yang mencapai tujuan terlebih dahulu atau yang terbaik adalah pemenang, yang dimenangkan adalah simbol, ia tetap ada dalam batas-batas permainan.

Bermain (play) mempunyai sifat esensial adalah aktivitas untuk hiburan, tidak dipertandingkan. Bermain merupakan unsur yang selalu ada dalam olahraga dan pendidikan jasmani. Olahraga adalah suatu permainan yang diorganisasikan, pengorga-nisasian bermain ini juga yang kemudian diadopsi dalam pendidikan jasmani. Sifat olahraga yang paling penting adalah kompetisi, bentuk kompetisi yang sopan dan beradab dengan adanya peraturan. Peraturan baik tertulis maupun tidak, selalu digunakan dalam olahraga. Peraturan ini tidak dapat diubah selama kompetisi berlangsung. Olahraga tanpa kompetisi hanya merupakan aktivitas bermain atau rekreasi.
Dalam pendidikan jasmani (physical education) mempunyai kedua unsur bermain dan olahraga, tetapi tidak semata-mata hanya bermain dan olahraga saja melainkan kombinasi keduanya. Dengan nama pendidikan jasmani aktivitas fisik berorientasi pada tujuan pendidikan, yaitu mencoba melakukan kegiatan mendidik melalui aktivitas fisik. Akan tetapi pada kegiatan bermain dan olahraga tidak berorientasi pada tujuan pendidikan.
Webster's New Collegiate Dictionary (1980) menyatakan bahwa pendidikan jasmani (physical education) adalah pembelajaran yang member! perhatian pada pengembangan fisik dari mulai latihan kalistenik, latihan untuk kesehatan, senam serta performansi dan olahraga pertandingan. Ensiklopedi Indonesia menyebutkan bahwa pendidikan jasmani adalah olahraga yang dilakukan tidak semata-mata untuk mencapai suatu prestasi, terutama dilakukan di sekolah-sekolah, terdiri atas latihan- latihan tanpa alat dan dengan alat, dilakukan di dalam ruangan dan di lapangan terbuka. Demikian pula menurut Menpora pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan ketrampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak (Menpora, 1984).
Menurut Bucher (1983) kata pendidikan jasmani terdiri dari dua kata jasmani (physical) dan pendidikan (education). Kata jasmani memberi pengertian pada bermacam-macam kegiatan jasmani, yang meliputi: kekuatan jasmani, pengembangan jasmani, kecakapan jasmani, kesehatan jasmani, dan penampilan jasmani. Sedangkan tambahan kata pendidikan yang kemudian menjadi pendidikan jasmani (physical education) merupakan satu pengertian yang tidak dapat dipisahkan antara pendidikan dan jasmani saja. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memberikan perhatian pada aktivitas pengembangan jasmani manusia. Walaupun pengembangan utamanya adalah jasmani namun tetap berintensi pendidikan, pengembangan jasmani bukan merupakan tujuan akan tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Ketika seseorang sedang melakukan kegiatan jasmani dalam bermain, berenang, berlari, sepakbola, senam dan kegiatan jasmani yang lain, maka intensi pendidikan harus selalu ada dalam permainan itu. Dengan berpartisipasi dalam program pendidikan jasmani akan berrnanfaat untuk: a) memperbaiki tingkat kesehatan jasmani, b) memberikan dasar ketrampilan yang akan membuat bekerja lebih eflsien, menarik dan hidup penuh semangat, serta c) sebagai pendidikan sosial yang akan memberi sumbangan pada pembentukan karakter dan hubungan antar manusia yang lebih baik.
Rijsdorp (1975) dari Belanda menggunakan istilah gymnologi yang berasal dari kata gymnazein yaitu latihan, berlatih dan pasivum artinya melatih diri. Gymnologi adalah ilmu yang menelaah aksi motorik dalam ruang lingkup pendidikan dan pembentukan. Pendidikan jasmani bukanlah pendidikan daripada badan, tetapi suatu pergaulan paedagogis dalam dunia gerak dan pengalaman jasmani. Gerak manusia merupakan perubahan dalam hubungan manusia dengan dunia sekitar. Dalam ruang lingkup pendidikan aksi motorik disempurnakan dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian menuju ke arah kedewasaan, kedewasaan manusia berarti secara berdikari mampu menunaikan tugas hidupnya.
Seaton (1974) mengatakan bahwa pendidikan jasmani adalah bentuk pendidikan yang memberikan perhatian pada pembelajaran pengetahuan, sikap dan ketrampilan gerak manusia. Pendidikan jasmani mempunyai keunikan dibandingkan dengan pendidikan yang lain, yaitu memberikan kesempatan untuk mengembangkan karakter dan sifat sosial yang lebih besar untuk diwujudkan dalam praktek pembelajaran. Pendidikan jasmani adalah satu aspek dari pendidikan melalui aktivitas jasmani. Demikian pula pendapat Baley dan Field (1976) yang memberikan pengertian pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui pemilihan aktivitas fisik yang akan menghasilkan adaptasi pada organik, syaraf, otot, intelektual, sosial, kultural, emosional, dan estetika.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian pendidikan jasmani, kesimpulan yang dapat ditarik ialah pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan, yaitu pendidikan melalui jasmani (Seaton, 1974; Rijsdorp, 1975; Clarke, 1976; Voltmer, 1979; Bucher, 1983). Jasmani hanya merupakan alat bukan tujuan, pengertian ini akan membawa implikasi penting dalam memilih kegiatan-kegiatan pembelajaran. Jasmani hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, peningkatan kualitas jasmani bukan merupakan tujuan utama. Dengan berperan serta dalam pendidikan jasmani yang merupakan salah satu kurikulum sekolah, setiap individu akan berkembang baik fisik, intelektual, mental dan emosionalnya. Intensitas pendidikan inilah yang akan membedakan pengertiannya dengan olahraga. Bentuk kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani sangat luas meliputi permainan (games), tarian (dance), olahraga (sports) dan bentuk-bentuk aktivitas lain yang berpengaruh pada aktivitas fisik manusia (Bucher, 1981) ditambah kalistenik dan senam (Benneth, 1983) serta olahraga air (aquatic)
(Nixon dan Jewel, 1980). Sedangkan proses dan bentuk kegiatan olahraga semua sudah dengan aturan yang jelas dan terstandar.


Kaitan Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga mempunyai perbedaan dan persamaan. Berdasarkan ruang lingkup kegiatannya maka pendidikan jasmani lebih luas daripada olahraga, karena dalam pendidikan jasmani juga meliputi olahraga (sport), games, bermain (play) dan segala aktivitas untuk mengembangkan kualitas manusia melalui gerak.
Ateng (1992) membedakan antara kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga berdasarkan tujuan, isi pembelajaran, orientasi pembelajaran dan sifat kegiatannya. Tujuan pendidikan jasmani disesuaikan dengan tujuan pendidikan, menyangkut pengembangan keseluruhan pribadi anak didik, sedangkan tujuan olahraga adalah prestasi unjuklaku motorik setinggi-tingginya untuk dapat memenangkan dalam pertandingan. Isi pembelajaran dalam pendidikan jasmani disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak didik, sedangkan pada olahraga is! pembelajaran atau isi latihan merupakan sasaran yang harus dikuasai. Orientasi pembelajaran pada pendidikan jasmani berpusat pada anak didik, anak didik yang belum mampu mencapai tujuan pada waktunya diberi kesempatan lagi, sedangkan pada olahraga atlit yang tidak mencapai tujuan sesuai dengan target waktu dianggap tidak berbakat dan diganti atlit yang lain. Sifat kegiatan pendidikan jasmani pada pemanduan bakat dipakai untuk mengetahui "entry behavior", sedangkan pada olahraga bertujuan memilih atlit berbakat. Sifat peraturan dalam pendidikan jasmani tidak ada pembakuan peraturan, peraturan dapat diubah sesuai dengan kondisi pembelajaran, sedangkan pada olahraga perubahan hanya terjadi melalui suatu kesepakatan organisasi keolah- ragaan yang terlibat, memerlukan waktu yang lama. Kegiatan-kegiatan dalam latihan dalam pendidikan jasmani tidak berorientasi untuk pertandingan akan tetapi sesuai dengan kegiatan hidup sehari-hari, sedangkan pada olahraga latihan-latihan harus disesuaikan dengan situasi pertandingan yang akan dihadapi.
Selain adanya perbedaan terdapat juga persamaannya, yaitu bahwa pendidikan jasmani dan olahraga berupa aktivitas-aktivitas fisik sekelompok otot besar yang keduanya berbentuk permainan. Pendidikan jasmani dirancang secara sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan, sedangkan olahraga mempunyai nilai pendidikan apabila dilakukan dengan semangat sportivitas bahkan bisa hilang nilai pendidikannya apabila tidak dilandasi oleh semangat itu. Rijsdorp (1975) berpendapat bahwa pendidikan jasmani dan olahraga banyak persamaannya, metode dan aktivitasnya menyerupai satu sama lain, tugas pelatih dan guru pendidikan jasmani adalah juga mendidik. Namun demikian Penjas tetap memegang intensitasnya untuk membantu ke arah kedewasaan melalui aktivitas jasmani.


Olahraga dapat memandang sekolah yang melakukan aktivitas pendidikan jasmani sebagai bibit atlit, karena keberhasilan pendidikan jasmani akan meningkatkan salah satu tujuan olahraga yaitu peningkatan kondisi fisik, kemampuan teknik olahraga, pengembangan mental yang akan menjadi olahragawan tangguh. Sedangkan pendidikan jasmani dapat menggunakan olahragawan berprestasi untuk memberikan motivasi dalam mengenalkan dan meningkatkan ketrampilan motoriknya. Hubungan antara keduanya digambarkan oleh Thomson (1980) yang dikutip Soemosasmito (1990) pada Gambar 3.


Nilai-nilai Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Beberapa nilai pendidikan dalam kegiatan olahraga dikatakan oleh Siregar (1978) bahwa penggunaan olahraga untuk tujuan pendidikan merupakan suatu alat dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas dalam membentuk kepribadian, yaitu:
(1) olahraga memberikan kesempatan belajar bagaimana bertindak kalau kalah atau menang,
(2) olahraga memberikan kesempatan bag! perorangan untuk mengorganisir sendiri pertandingan-pertandingan olahraga dan membentuk regunya, dengan demikian kepada perorangan diajarkan mendidik dan mengorganisir diri sendiri,
(3) dalam olahraga memungkinkan guru atau pelatih mengamati perilaku anak didik yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi kehidupan normal,
(4) sebagian besar cabang olahraga memungkinkan perorangan mengambil bagian dalam kelompok yang menganut kepentingan bersama,
(5) olahraga seperti lari lintas alam, mendaki gunung dan sebagainya memberikan pengalaman untuk mengenal lingkungan hutan, lembah, sungai dan sebagainya,
(6) prestasi dihasilkan melalui proses yang panjang, ini akan membentuk kepribadian dan ketangguhan dalam mewujudkan cita-cita.
Melalui pendidikan jasmani dan olahraga, nilai-nilai olahraga yang dapat diperoleh meliputi: jujur, suka bekerja sama, menghargai orang lain, semangat yang tinggi dan percaya diri.
Kejujuran merupakan sikap yang dapat dipercaya, tidak berdusta, menipu atau memperdaya, hal tersebut terwujud dalam perkataan dan perbuatan. Kejujuran dapat ditanamkan dalam permainan bola basket, hal tersebut nampak dalam kegiatan pembelajaran sebagai berikut: kejujuran siswa untuk melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk guru, mau mengakui kesalahan atau pelanggaran yang diperbuatnya (bola keluar, fouling dan sebagainya).
Bekerjasama adalah suatu cara menyelesaikan suatu masalah dengan melibatkan orang lain. Suka bekerjasama dapat ditanamkan pada diri anak melalui kegiatan pembelajaran atau saat bermain bola basket, seperti: saat bertanding, saling mengoper bola sesama anggota tim untuk memasukkan ke dalam keranjang lawan.
Menghargai orang lain erupakan suatu sikap yang tidak memandang rendah terhadap orang lain. Sikap menghargai dapat ditanamkan pada diri anak melalui permainan bola basket, seperti menghargai hasil kerja teman dalam tim, tidak menganggap rendah kemampuan lawan dimana lawan dipandang sebagai teman dalam bermain dan memberikan persaingan yang bersifat bersahabat.
Semangat adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Semangat yang tinggi dapat ditanamkan pada diri siswa melalui kegiatan bermaian bola basket, seperti semangat untuk mendapatkan kemenangan, menjadi pemain yang terbaik dan mendapatkan nilai yang tinggi.
Percaya pada diri sendiri merupakan suatu sikap yang menyakini kemampuan yang ada dalam diri sendiri. Sikap tersebut dapat ditanamkan pada diri siswa melalui permaianan bola basket, misalnya memberikan kesempatan pada siswa untuk menjadi wasit dalam pertandingan dan memberikan kesempatan pada siswa untuk menjadi kapten dalam permainan.
Secara keseluruhan dari nilai-nilai olahraga yang dijelaskan di depan merupakan landasan untuk membentuk nilai fair play. Fair play adalah suatu bentuk harga diri yang tercermin dari kejujuran dan rasa keadilan; rasa hormat terhadap lawan, baik dalam kekalahan maupun kemenangan; sikap dan perbuatan ksatria tanpa pamrih; sikap tegas dan berwibawa serta kerendahan hati dalam kemenangan dan ketenangan pengendalian diri dalam kekalahan. Fair play juga diartikan sebagai kebesaran hati terhadap lawan yang menimbulkan perhubungan kemanusiaan yang akrab dan hangat dan mesra.